“Asal dari semua maksiat, lupa kepada Allah dan rela menuruti syahwat yang datangnya dari hawa nafsu. Dan asal dari setiap ketaatan, kesadaran dan menjaga diri dari syahwat itu tidak ada kerelaan darimu dalam menuruti hawa nafsu”. (Syaikh Ibnu ‘Atho’Illah)
Asal Mula Kemaksiatan Dan Ketaatan
Menurut para ahli ma’rifat, bahwasanya asal mula timbulnya kemaksiatan yang dilakukan seseorang itu adalah karena mereka berpaling dari Allah dan menurutkan kehendak hawa nafsu. Padahal sebenarnya kalau manusia itu mau berfikir dengan hati dan akal yang sehat, niscaya dia akan tahu bahwa nafsu yang tidak terkendali selalu akan menyeret manusia dalam jurang kehancuran, kebinasaan, dan juga kehinaan.
Namun demikian, tidaklah bijak kalau nafsu itu kita lenyapkan begitu saja. Karena pada dasarnya, nafsu itulah yang mendorong manusia kearah kemajuan. Dan dalam hal ini nafsu tersebut terbagi menjadi dua macam, yakni :
1. Nafsu Ammaaroh, yaitu nafsu yang cenderung untuk berbuat keburukan dan kejahatan. Perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 53 yang artinya :
2. Nafsu Mutmainnah, yaitu nafsu yang tenang dan dapat dikendalikan, sehingga tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat kejahatan atau kemaksiatan. Perhatiakn firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Fajr ayat 27-28 yang artinya :
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenanglagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam surga-Ku”.
Adapun nafsu Ammaroh itu masih terbagi lagi menjadi enam macam, yakni :
1. Syahwat, yang harus diatasi dengan jalan mengerjakan amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
2. Amarah, yang harus diatasi dengan sifat sabar.
3. Thama’, yang harus diatasi dengan sifat qona’ah.
4. Takabbur atau sombong, yang harus diatasi dengan sifat tawadhu’
5. Riya’, yang harus diatasi dengan sifat ikhlas.
6. Dengki, yang harus diatasi dengan sifat pasrah dalam menerima apa yang sudah menjadi bagiannya.
Keenam sifat buruk yang menjadi cabang dari nafsu ammaroh tadi haruslah diperangi dan diatasi dengan cara menanamkan sifat-sifat baik sebagaimana yang tersebut diatas yang sebenarnya merupakan cabang dari nafsu muthmainnah.








